@elysianssociety
Di sinilah paradoks itu lahir: nasionalisme berubah menjadi tameng, bukan perisai bagi rakyat, melainkan dinding bagi elite untuk berlindung dari kritik moral. Mereka berbicara tentang “kemajuan bangsa”, namun bangsa yang dimaksud hanyalah bayangan abstrak; tanpa wajah para petani, tanpa suara nelayan, tanpa air mata para ibu yang kehilangan tanah warisannya yang terampas oleh PSN dan korporat oligarki.
Ketika nasionalisme kehilangan roh moralnya, ia menjadi sekadar slogan. Padahal, cinta tanah air sejati bukan terletak pada seberapa banyak sumber dayanya dieksploitasi demi negara, tetapi seberapa dalam kita menjaga martabat setiap manusia yang hidup di atas tanah itu.