Elysian Society Movement
0 Followers
Elysian Waltz #1
Nasionalisme, dalam makna sejatinya, seharusnya tumbuh dari cinta yang tulus terhadap tanah dan kehidupan yang berakar di atasnya. Namun dalam banyak bab sejarah, cinta itu telah berubah bentuk menjadi bendera yang dikibarkan oleh tangan-tangan yang tak lagi mengenal bau bumi tempat mereka berpijak. Atas nama kedaulatan, mereka menancapkan palu kebijakan ke tanah-tanah sunyi di ujung negeri; menggali kekayaan sumber daya dari perut bumi, memotong hutan yang telah ribuan tahun menjadi pelindung kehidupan, dan mengalirkan hasilnya ke pusat kekuasaan yang tak pernah benar-benar lapar. Sementara di tanah asalnya, anak-anak tumbuh tanpa sekolah yang layak, sungai mengering, dan budaya lokal terpinggirkan oleh mesin yang disebut “pembangunan”.
Di sinilah paradoks itu lahir: nasionalisme berubah menjadi tameng, bukan perisai bagi rakyat, melainkan dinding bagi elite untuk berlindung dari kritik moral. Mereka berbicara tentang “kemajuan bangsa”, namun bangsa yang dimaksud hanyalah bayangan abstrak; tanpa wajah para petani, tanpa suara nelayan, tanpa air mata para ibu yang kehilangan tanah warisannya yang terampas oleh PSN dan korporat oligarki. Ketika nasionalisme kehilangan roh moralnya, ia menjadi sekadar slogan. Padahal, cinta tanah air sejati bukan terletak pada seberapa banyak sumber dayanya dieksploitasi demi negara, tetapi seberapa dalam kita menjaga martabat setiap manusia yang hidup di atas tanah itu.
alam menyedikan rawa-rawa agar kelebihan air hujan yang diterima permukaan tersalurkan ke bawah tanah dan menjadi cadangan dan deposit air bawah tanah bagi peradaban masa depan mengeksploitasinya dengan moderat, namun sayangnya manusia bodoh menutup rawa-rawa dengan beton, mengesploitasi air bawah tanah secara berlebihan sehingga terjadi penurunan tanah, lalu mengeluh tentang banjir saat musim penghujan tiba, oh betapa bodohnya kesadaran mereka