4. Dilema Efisiensi vs Demokrasi kemaren-kemaren kan, kubu Utilitas (neoklasik) bilang kalo nilai itu bisa diukur? nah ntu tuh namanya corak pandang Kardinalis--mereka yakin banget bisa bikin 'Hedonimeter' (alat ukur kenikmatan) buat tau angka pasti kepuasan kita. misalahnya, gimana cara ngukur kenikmatan satu orang (A) dibanding orang lain (B)? pada dasarnya kita gabisa ngukur rasa orang lain! isu ini dinamain "Interpersonal Comparison of Utility". Ini bikin teori mereka gak valid secara empiris!
- 0 replies
- 0 recasts
- 0 reactions
3. Nilai Bukan Kerja, Tapi Sensasi Psikologis. pagi ol, hari ini kita berlanjut lagi ke pertanyaan dasar keseukuran suatu barang, Nilai. yaps, di sini kita bakalan bahas dari kubu modern/neo-klasik yang dateng nge diss track buat 'teori nilai kerja' (LTV). buat doi, LTV tuh gatot bes, alias gagal total ngejelasin apa yang diperbincangan dalam perkembangan ekonomi itu, yaitu "paradoks nilai. doi ngasih ilustrasi dengan air vs berlian, yang secara nilai guna, air itu penting banget dong buat hidup, tapi justru air punya nilai tukar yang murah. beda ama Berlian yang bahkan secara kegunaan hanya sebatas dipake buat hiasan, ga bisa dimakan juga toh, atau kalau ga ada berlian, manusia gakan mati juga gitu, tapi punya nilai tukar yang prestisius banget.
- 0 replies
- 0 recasts
- 0 reactions
oke kita lanjut ke teori nilai lagi. kali ini kita bahas Teori-Nilai Kerja (labour theory of value/LTV) di ekonomi-politik klasik. 2. Kerja Mati vs. Kerja Hidup: Kenapa Marx Bilang Harga Pasar Itu Bohong? Teori Nilai-Kerja (LTV) ini, adalah logika yang dipake Adam Smith sampe Karl Marx. Intinya sesimpel ini: nilai suatu barang ditentukan oleh jumlah kerja yang dicurahkan untuk memproduksinya. yang Akar idenya udah ada sejak Thomas Aquinas, yang bilang harga tuh harus "adil", artinya kudu sesuai ongkos produksi atau biaya pembuatan. Jadi, Nilai suatu barang itu lahir di ranah Produksi!
- 0 replies
- 0 recasts
- 0 reactions